Today: 14.Nov.2018
×

Warning

JUser: :_load: Unable to load user with ID: 42

"Gambar Cadas dari Masa Prasejarah di Indonesia"
22.Jan.2018
Rate this item
(0 votes)

Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain), Pusat Penelitian Biologi-LIPI bekerja sama dengan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), dan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kemendikbud menggelar acara Nonton Bareng Komunitas (NBK) dalam rangka mengedukasi dan menumbuhkan rasa ingin tahu serta kecintaan khususnya generasi muda terhadap aset bangsa yang sangat berharga yaitu bukti sejarah peradaban.

Acara yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 22 Juli 2017 di Gedung Munasain, mulai pukul 17.30 WIB –21.30 WIB menampilkan film “Gambar Cadas darimasa Prasejarah di Indonesia”, dialog interaktif dengan narasumber ahli Arkeolog Indonesia dari Universitas Indonesia dan National Geographic Indonesia, serta penampilan seni Wayang Golek dan Kecapi dari Paguyuban Asep Dunia.Kegiatan ini juga merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Kongres Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) dan Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA) XIV yang akan diadakan di Bogor pada 24-27 Juli 2017.


 

Diawali dengan sambutan pembuka oleh Kurator Munasain, Dra. Mulyati Rahayu yang mewakili Kepala Pusat Penelitian Biologi–LIPI yang berhalangan hadir, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda Munasain dan para pecinta museum yang diharapkan dapat menjadi sarana untuk membuka wawasan dan menambah pengetahuan akan kekayaan budaya nusantara sehingga dapat membawa manfaat bagi generasi yang akan datang. Sementara perwakilan dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kemendikbud berharap dengan adanya NBK ini menjadi titik awal dalam melakukan kolaborasi dengan komunitas lainnya sehingga dapat ditindaklanjuti rencana kerja sama di masa yang akan datang. Dan sebagai sambutan terakhir, perwakilan dari IAAI memperkenalkan tentang ilmu arkeologi, membuka wawasan para generasi muda yang diharapkan dapat memahami misteri masa lalu karena masa lalu merupakan investasi berharga bagi masa depan.

  

Kegiatan NBK dihadiri oleh sekitar 150 peserta yang tidak hanya dari beberapa komunitas seperti Komunitas Jelajah Budaya, Komunitas Pecinta Museum Bogor, Museum Tanah, Balai Kitri, Komunitas Fotografi Bogor (KFB), Komunitas Postcrossing Indonesia, Komunitas Bogor Raya, Bogor Heritage Kapuk, Back Packer Jakarta, Bogor Sketcher, Napak Tilas, Telapak Budaya, Pramuka Bogor, Paguyuban Asep Dunia, Komunitas Filateli Bogor, dan  Masyarakat Cinta Bogor, melainkan hadir juga guru dan siswa dari beberapa SMP dan SMA di Bogor, mahasiswa dari IPB, AMK, UI, ITB, Unpad, Brawijaya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bogor serta beberapa media cetak dan elektronik.

  

 

Pada sesi pemutaran film “Gambar Cadas dari Masa Prasejarah Indonesia”, seluruh peserta yang hadir dibawa menjelajah ke alam lain, yaitu berpetualang ke masa prasejarah yang telah dilalui puluhan ribu tahun yang lalu. Gambar cadas (rock art) merupakan karya seni tertua yang menjadi salah satu bentuk peninggalan arkeologi dan menunjukkan jejak dan bukti prasejarah di Indonesia. Budaya gambar cadas di Indonesia diperkirakan telah ada sejak 40.000 tahun lalu. Hal ini terbukti dari peninggalan gambar cadas yang ditemukan di kawasan Maros, Pangkep. Peninggalan arkeologi gambar cadas ini ditemukan terdapat pada dinding gua atau ceruk yang berupa gambar telapak tangan, fauna maupun lingkaran, garis-garis persegi atau juga gambar tanpa bentuk (simbolik). Gambar-gambar ini merupakan bukti jejak sejarah peradaban manusia sehingga kelak dapar dipelajari dan ditafsirkan tentang cara hidup, kemampuan teknologi, pengetahuan, religi maupun persebaran dan migrasinya. Narasumber yang merupakan fotografer lepas dari National Geographic Indonesia,Feri Latief menjelaskan beberapa foto yang diperoleh dengan penuh perjuangan karena gua-gua yang dituju tempatnya cukup ekstrim. Gambar yang diperoleh di beberapa gua di Sumatera Selatan (Baturaja), Sulawesi Selatan (Maros), Kalimanta Timur (Sangkurilang dan Merabu), ujung barat daya Maluku (Kisar) sampai Papua Barat (Kaimana) cukup beragam, dari bentuk telapak tangan, binatang, layang-layang, parahu dan simbol-simbol.

  

Sedangkan narasumber dari IAAI, Dr. R. Cecep Eka Permana, S.S., M.Si. menjelaskan bahwa gambar merupakan sarana komunikasi bagi si pembuat dengan yang membacanya dan gambar telapak tangan merupakan gambar universal yang banyak dijumpai dibeberapa gua, sedangkan gambar telapak tangan bermotif merupakan ciri dari status sosial di masyarakat yang dimiliki oleh petinggi atau pejabat dalam komunitas tersebut. Ditemukan pula gambar binatang dan simbol sebagai pola ritual (saman/dukun) yang merupakan simbol penolak bala. Gambar yang terdapat di Gua Maros merupakan salah satu gambar tertua di dunia yang berumur sekita 40.000 tahun. Ditemukan pula sekitar 408 buah cap tangan yang berjajar dan bertingkat di Gua Ham (Kalimantan Timur) yang merupakan gambar cap tangan terbanyak di dunia. Di Kabupaten Muna (Sulawesi Tenggara) ditemukan gambar tangan yang jumlahnya lebih sedikit, sedangkan gambar hewan lebih banyak selain itu ada juga gambar perahu dan layang-layang. Untuk gambar-gambar yang ditemukan di Papua Barat (Kaimana), terdapat sedikit gambar tangan dan lebih banyak gambar simbol pada dinding batu gamping yang membentuk ceruk. Ada pula gambar ikan yang cukup detail dan benda lain atau manusia yang memegang alat seperti kapak atau batu. Ditemukan pula gambar hewan atau makhluk-makhluk yang tidak jelas, namun bisa jadi mereka menganggap sebagai bentuk nenek moyangnya. Gambar-gambar yang ditemukan merupakan warisan budaya yang dibuat menggunakan bahan alam yang murni dan bisa bertahan hingga ribuan tahun. Diduga gambar dibuat dengan menggunakan hematit atau tanah merah dan ditumbuk serta ditambah dengan lemak banteng kemudian dipanaskan dalam waktu tertentu untuk menciptakan warna yang diinginkan. Di akhir penjelasannya beliau berpesan bahwa nilai-nilai luhur yang ditinggalkan nenek moyang sangat penting dan perlu dilestarikan dan dikembangkan serta dimanfaatkan untuk genarasi selanjutnya.


Kemudian acara dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang dipandu oleh Asep Jurasep dari Paguyuban Asep Dunia. Berbagai pertanyaan seputar gambar cadas dan pola kehidupan masyarakat prasejarah nusantara dilontarkan beberapa peserta baik dari komunitas maupun mahasiswa. Tidak ketinggalan dinas pariwisata yang juga mendapatkan masukan untuk dapat juga melestarikan dan mengemas warisan budaya ini sabagai destinasi wisata edukasi yang dapat bermanfaat bagi generasi mendatang. Di akhir acara, diserahkan cinderamata dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kemendikbud kepada seluruh narasumber dan moderator. Acara NBK dimeriahkan pula dengan penampilan cepot dan kecapi dari Paguyuban Asep Dunia yang membawakan lagu-lagu sunda.


(Yanti Eka Pertiwi - Humas Puslit Biologi - LIPI)

Great event..semoga berlanjut kegiatannya..

TESTIMONIAL_AUTHOR, AUTHOR_POSITION

Read 103 times Last modified on Monday, 29 October 2018 06:42

Suspendisse at libero porttitor nisi aliquet vulputate vitae at velit. Aliquam eget arcu magna, vel congue dui. Nunc auctor mauris tempor leo aliquam vel porta ante sodales. Nulla facilisi. In accumsan mattis odio vel luctus.

  • Latest
  • Popular

Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia

Jl. Ir.H. Djuanda No. 22 Bogor 16122-Jawa Barat Indonesia

Telp. 0251-8387703

Booking online

Jadwal kunjungan

 

 

Hari

Jam

Senin-Kamis

08.00-16.00

Jumat 

08.00-11.00

 

Istirahat

 

13.00-16.00

Sabtu & Minggu

09.00-14.00

Hari libur besar/Nasional

Tutup

 

Rombongan:

untuk rombongan yang akan berkunjung ke Munasain dapat melakukan pemesanan tempat melalui Booking online, no telepon atau melalui email.

+62 0251-8387703

email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Media Sosial

  This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.