ZT Six - шаблон joomla Mp3

Style Switcher

Layout options
  • Boxed Layout
  • Full Width Layout
Primary Color

Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain) menyelenggarakan acara Night At The Museum di Jl. Ir. H. Juanda No. 22-24 Bogor Jawa Barat. Kegiatan yang berlangsung Jum,at 19 Oktober 2018 adalah dalam rangka memperingati Hari Museum Nasional Indonesia yang dibuka oleh perwakilan Kepala Bidang Botani Puslit Biologi LIPI Arief Hidayat M.Si.

Kegiatan diisi dengan talkshow dan nonton bareng tentang eksplorasi Lengguru. Tema talkshow yaitu “Mengenal Totopong dan Bir Pletok :Memaknai Nilai-nilai Tradisi Sunda dan Betawi”.

Bambang Somantri sebagainara sumber pertama membawakan paparan tentang filosofi Totopong, sedangkan Asep Saepudin yang dikenal dengan Asep Jurasep menyajikan tentang bir pletok. Totopong dalam bahasa Sunda merupakan ikat kepala yang terbuat dari kain (biasanya kain batik). Jumlah nama jenis ikatan kain pada kepala menurut Bambang sekitar 42 jenis, diantaranya parekos jengkol, julang napak, barangbang semplak, merak ngibing, kebo modol, keong, gurat bumi dan lain-lain. Tritangtu merupakan konsep totopong yang oleh orang kelahiran Serang tahun 1972 ini memaknai dengan  : Hamblum minallah, hablum minannas dan hablum minal alam. Artinya bahwa dalam kehidupan manusia menurut falsafah ini tidak terlepas dari hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam.

Dalam talkshow juga sekaligus mempraktekkan cara-cara pemakaian totopong. Dua orang audience yang bersedia menjadi volunter model untuk mempraktekan beberapa jenis totopong. Audience sangat antusias mengikuti acara ini karena untuk masyarakat generasi sekarang menganggap hal ini cukup unik. Seperti yang diutarakan salah satu mahasiswa dari pakuan Bogor mengakui bahwa totopong yang merupakan budaya Sunda ini baru dapat memahami setelah mengikuti acara ini. Audien terdiri dari perwakilan unsur mahasiswa yaitu dari Universitas Pakuan, Universitas Nusa Bangsa, IPB, Universitas Juanda, STIE dan Universitas Ibnu Khaldun.Unsur komunitas perwakilan dari Komunitas Fotografi Bogor, Bogor Heritage, KOMPEMOR, Napak Tilas Bogor,.Paguyuban terdiri dari Paguyuban Asep Sedunia, PAPEBO dan Paguyuban Pecinta Bogor, media dan perwakilan pelajar yang seluruhnya sekitar 110 orang.

Bambang Somantri- kiri dan Asep Saepudin - kanan (Sumber Foto Arid)

Bir pletok merupakan minuman khas etnis Betawi yaitu minuman penyegar yang dibuat dari beberapa campuran rempah, antara lain Jahe, sere, daun pandan, kapulaga, pala, cengkeh, lada hitam, cabe jawa, kayu manis, dan secang. Menurut Asep dalam paparannya sejak kapan istilah bir pletok  ini dikenal tidak pasti, tetapi ia mengatakan sejarah bir pletok yaitu saat pembangunan lokasi Menteng pada zaman Belanda di Jakarta berpesta dengan minuman wine (anggur),  kemudian masyarakat sekitar meniru jenis minuman seperti itu, namun jenis munuman yang dibuat tidak memabukan bahkan dapat menghangat tubuh. Selanjutnya orang kelahiran Subang tujuh September 1973 itu mengatakan bahwa di daerah sekitar mesjid Cut Mutia terdapat pedagang minuman dengan wadah terbuat dari bambu besar yang isinya minuman campuran rempah dan dan es batu, apabila digoyang-goyang menimbulkan suara “pletok-pletok” katanya. Persi lain mengatakan bahwa dinamakan bir pletok karena minuman yang di dalam botol bila dikocok menimbulkan suara “Pletok” ketika tutup botolnya dibuka.

Sebagian audience dari sisi belakang ruangan (Sumber foto : Arid)

Bir pletok bagi masyarakat betawi wajib hadir pada acara-acara pesta, dengan demikian akan memiliki dampak turunan yang luar biasa lulusan SMAN2 Subang ini. Asep memperjelas kepada audience bahwa bir pletok ini telah menjadi  ikon budaya Betawi berdasarkan Peraturan Gubernur No.11 tahu 2017.

Peragaan pemakaian totopong, tampilan stand bir pletok di Munasain dan bahan rempah-rempah
 (Sumber foto Asep Jurasep dan Arid )

Narasumber lulusan IKIP Jakarta tahun1999 ini mengatakan bahwa cara membuat bir pletok itu mudah, yaitu sediakan bahan rempah-rempah kemudian masak air di panci dipanaskan dengan api sedang, masukan jahe, biji pala, lada, kapulaga dan sereh yang terlebih dahulu “digeprek” hingga pecah / hancur. Kemudian masukkan rempah lainnya yaitu daun pandan, daun jeruk, cengkeh dan kayu manis, sedangkan yang terakhir memberikan daun secang agar keluar warnanya.  “Pengaruh secang tergantung pada kadar panasnya air” tambah ketua Paguyuban Asep Dunia Bogor.

Ditulis Oleh - Dian Komara

 

 

Programmes

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomVision.Com

What's On

Dalam rangka memperingati HCPSN, @munasain menyelenggarakan "Workshop Ilustrasi Tumbuhan".

Night at the Museum

 “Mengenal Totopong dan Bir Pletok :Memaknai Nilai-nilai Tradisi Sunda dan Betawi” adalah tema acara Night at the Museum yang diselenggarakan di Munasain…

Educations

  Dengan semangat Sumpah Pemuda yang jatuh bulan Oktober Yayasan Belantara Budaya Indonesia bersama Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia di kota Bogor…

Lorem ipsum dolor sit amet, feugiat delicat liberavis seid cum quo.

Featured Works Flickr

View more on flickr