Today: 22.Apr.2018
×

Warning

JUser: :_load: Unable to load user with ID: 42

Renovasi Munasain

Beberapa perubahan yang dilakukan di Museum Sejarah Alam Indonesia adalah:

RUANG ORIENTASI

Sub tema: Hasil Ekspedisi: permulaan perncarian Emas hijau Nusantara (rempah rempah, dll) di Indonesia

Ruang Orientasi akan didahului dengan materi tentang perkembangan Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain), yang menceritakan tentang informasi dimulai dari datangnya pedagang pada masa kolonialis untuk mencari rempah yang berkembang informasinya dari para peramu, dukun, datu dan kalangan cerdik pandai tempo doeloe menyebabkan local genius yang tebina selalu mendapat tempat terhormat di masyarakatnya. Sebagai akibatnya sejak zaman kuno ketersohoran kekayaan alam nusantara sudah merebak kemana-mana, sehingga sebagai komoditas dagang yang penting lalu diminati oleh banyak pihak.

 Gagal mendapatkan emas yang semula dicarinya di awal millennium pertama, pedagang kuno India menemukan wilayah nusantara subur dengan tetumbuhan yang menghasilkan lada, kayu manis, pala, cengkih, cendana, kayu gaharu, dan kapur barus. Sesudah periode tersebut, pedagang Cina, Parsi, dan Arab yang datang sesudah itu juga meminati rempah-rempah. Berkat kegiatan mereka tak lama sesudah itu maka berita rempah rempah negeri ini sampai ke pusat pasar kekaisaran Romawi kuno, walaupun dengan harga yang sangat tinggi karena ditakar kesetaraan bobotnya dengan emas sampai menimbulkan ungkapan barat terkenal “mahal seperti lada”. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa ilmu pengetahuan yang dikuasai dan dikembangkan tidak terkodifikasi.

 Oleh karena itu banyak pengetahuan, ilmu dan teknologi setempat yang hilang ditelan masa, tak terturunkan pada generasi penerusnya, tidak terkembangkan atau belum tersentuh oleh inovasi teknologi kemajuan zaman, sedangkan kehebatannya baru berhasil diketahui generasi sekarang berkat kegiatan pendatang dari barat. Diawali, oleh Rumphius – seorang pedagang rempah VOC berkebangsaan Jerman –seorang tunanetra berprakarsa menghimpun dan merekam semua pengetahuan penduduk tentang pemanfaatan tetumbuhan Maluku dan daerah sekitarnya, hasilnya kemudian secara anumerta diterbitkan menjadi buku monumental Herbarium Amboinense pada tahun 1750. Sesuai dengan perkembangan ilmu botani, kegiatan tersebut diiringi dengan pembuatan dan pengumpulan herbarium atau hortus siccus (yang secara harfiah berarti kebun kering).

 Sejak saat itu ribuan contoh tetumbuhan nusantara dibuat dan dikirimkan ke pusat-pusat penelitian dan pengembangan ilmu dan teknologi serta rekayasa di Eropa. Kegiatan ilmiah yang dirintis Rumphius kemudian memang terus dilanjutkan dengan lebih terencana dan terprogram oleh pemerintah kolonial Belanda yang mewarisi Indonesia dari VOC yang bangkrut di akhir tahun 1799.

Sub tema 1: Kebunraya Indonesia sebagai awal mula perkembangan referensi ilmu pengetahuan Biologi

Bukanlah suatu kebetulan sejarah kota Bogor yang waktu itu diberi nama Buitenzorg, yang berarti sans sauci atau tanpa peduli-dipilih untuk dijadikan pusat kegiatan penggalian potensi tetumbuhan tropik, baik yang asli berasal dari Indonesia maupun yang sengaja didatangkan dari luar negeri. Kota yang waktu itu masih terletak dalam kawasan hutan hujan tropik yang lebat memang merupakan tapak ideal untuk mengamati perikehidupan makhluk-makhluk yang sejak semula sudah diduga memiliki keanekaragaman yang tinggi. Adanya kebun raya Bogor yang dibangun tanggal 18 Mei 1817 merupakan tonggak maha penting dalam perjalanan sejarah kegiatan penelitian tumbuhan dan mungkin penelitian biologi atau bahkan keseluruhan ilmu-ilmu pengetahuan alam lainnya di nusantara. Kemudian memang terbukti bahwa dalam lintasan sejarahnya yang panjang kebun raya yang nama resminya di zaman penjajahan adalah ‘s Lands Plantentiun te Buitenzorg menjadi induk yang melahirkan hampir semua lembaga penelitian dan pengembangan serta juga pranata keilmiahan lain di Indonesia, yang menyebabkan Bogor pernah menjadi kota ilmu yang terkemuka di dunia.

Sesuai dengan kodrat dan corak kegiatan utamanya, pendirian sebuah kebun raya pasti selalu dibarengi dengan pengumpulan hortus siccus untuk mendukungnya secara ilmiah. Memang tercatat dalam sejarah bahwa dalam mencari biji dan bibit tumbuhan hidup untuk ditanam, pendiri Kebun Raya Bogor C.G.R. Reinwardt-seorang ilmuwan Jerman yang sengaja didatangkan pemerintah kolonial Belanda ke Indonesia sesudah menerima kembali daerah jajahannya dari Inggris pada tahun 1816 juga melakukan pengumpulan contoh herbarium. Kegiatan eksplorasi yang dilakukannya ternyata tidak hanya terbatas pada daerah sekitar Bogor saja tetapi juga meluas ke seluruh Jawa dan Madura, serta sampai pula ke Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. Ini dapat dimengerti jika disadari bahwa tugas yang dibebankan pada Reinwardt sebenarnya adalah mengepalai pengorganisasian seluruh kegiatan pengembangan pertanian dan industri, pelayanan kesehatan, pendidikan, serta juga penelitian ilmiah lain di nusantara. Perlu ditambahkan bahwa pada waktu itu terdapat pandangan kuat dari sebagian besar ilmuwan Belanda agar semua kegiatan penelitian dipusatkan pengerjaannya di Eropa saja, sehingga sama sekali tidak perlu dilakukan di Indonesia. Bahkan ketika C.L. Blume-ilmuwan yang mengganti kedudukan Reinwardt di Bogor-diberhentikan dari jabatannya pada tahun 1826 dan pulang ke negeri Belanda, maka dibawanya semua koleksi yang dihimpun pendahulunya.

Dengan demikian dapat dipastikan bahwa dasar koleksi spesimen herbarium yang kemudian disimpan untuk dipelajari langsung di Bogor telah mulai dibuat bersamaan waktunya dengan pendirian Kebun Raya di sekeliling istana peristirahatan Gubernur Jendreral (yang dibangun pada tahun 1756 di bekas tapak istana raja-raja Pajajaran). Koleksi herbarium yang terakumulasi ternyata cepat menumpuk, apalagi setelah diangkatnya seorang hortulanus atau pekebun bernama J.E.Teysmann pada tahun 1831. Ia ternyata sangat energitik dalam melakukan eksplorasi ke seluruh Indonesia untuk keperluan pengembangan kebun raya, sekalipun pada waktu itu pemerintah kolonial mengalami berbagai kesulitan keuangan sebagai akibat meletusnya pemberontakan Diponegoro dan Perang Paderi yang amat dahsyat. Perhatian pemerintah pada kegiatan ilmiah saat itu memang sangat memerihatinkan, sehingga koleksi herbarium yang semakin banyak mula-mula hanya disimpan di sebuah gedung tua bekas istal (atau kandang kuda) istana Bogor. Letak kandang kuda itu tidak dapat dilacak lagi karena kompleks istana bertingkat dua tersebut dihancurkan gempa hebat yang terjadi tahun 1832, sedangkan bangunan istana yang sekarang baru didirikan pada tahun 1856.

Pada tanggal 14 Agustus 1841 Gubernur Jenderal mengeluarkan surat keputusan untuk mendirikan sebuah bangunan khusus dalam kawasan Kebun Raya Bogor buat mewadahi koleksi herbarium yang sangat berharga itu. Akan tetapi pelaksanaan pembangunan gedung sederhana tadi sangat tersendat-sendat sehingga baru tiga tahun kemudian bangunan tersebut bisa dirampungkan untuk ditempati. Sejak itu, tahun 1844 dianggap sebagai tahun kelahiran Herbarium Bogoriense sebagai suatu lembaga yang punya identitas, walaupun secara organisasi unit tersebut hanya merupakan suatu bagian kecil saja daripada ‘s Lands Plantentuin yang menjadi lembaga induknya.

Sementara itu peningkatan kegiatan eksplorasi untuk mengembangkan Kebun Raya terus berlangsung, karena Teysmann dibantu oleh kolaborator, ahli taksonomi herbarium, pakar perikehidupan alam, dan botanis terandal lainnya seperti J.K. Hasskarl, F.W. Junghuhn, H. Zollinger dan S. Binnendijk. Sebagai akibatnya penelitian yang dilakukan setempat semakin menunjukkan keindependenannya terhadap kegiatan yang dikerjakannya di negeri Belanda. Beberapa tanaman ekonomi yang oleh para ilmuwan tadi dianggap berpotensi untuk ditanam di bumi Indonesia didatangkan dari luar negeri untuk dicobakan penanamannya secara lebih meluas, antara lain kina, vanili, kelapa sawit, getah perca, jagung, karet, tembakau, kopi, dan ubi kayu. Dengan sendirinya koleksi cuplikan herbarium yang terhimpun juga semakin banyak serta meningkat secara sangat meyakinkan. Banyak jenis baru yang dipertelakan pertama kali dan diberi nama ilmiah dari Bogor, sehingga peran dan kepentingan koleksi herbarium sebagai bahan baku kegiatan sebuah lembaga ilmiah tropik semakin mapan dan merupakan awal perkembangan ilmu tumbuhan tropik.

Sementara itu diambil kebijakan oleh pemerintah kolonial untuk memindahkan museum geologi yang semula terletak dekat Kebun Raya Bogor ke kota Bandung. Museum yang di kalangan rakyat setempat terkenal dengan sebutan ‘kantor batu’ tersebut-karena koleksinya memang terpumpun pada bahan-bahan petrologi dan mineralogi yang berupa batuan-batuan, sehingga jalan disampingnya pun sampai sekarang disebut Jalan Kantor Batu-menempati bangunan besar di Grote Postweg 22 (sepenggal bagian jalan raya pos Anyer-Panarukan buatan Gubernur Jenderal H.W.Daendels, yang sesudah perang kemerdekaan diubah namanya menjadi Jalan Raya, dan sekarang Jalan Raya Ir. Juanda). Karena jumlah spesimen herbarium yang semakin membludak jumlahnya tidak tertampung lagi di gedung lamanya yang sederhana, pada tahun 1868 koleksi besar tersebut mulai dipindahkan ke bekas gedung yang ditinggal kosong oleh museum batu-batuan tadi. Sejak tahun 1871 Herbarium menempati gedungnya yang besar dan tampak anggun serta megah karena mengingatkan orang pada bangunan Yunani kuno dengan pilar-pilar besar serta sayap kiri kanan dan galeri dengan ruang terbuka yang lapang. Perpindahan fisik dari dalam kawasan Kebun Raya Bogor menyebabkan diperlukan pengadministrasian yang terpisah dan mandiri sehingga pada tahun 1881 ditunjuk seorang ilmuwan khusus mengepalai pengelolaan herbarium.

Sementara itu kegiatan eksplorasi tumbuhan terus dilakukan secara terprogram sehingga jumlah koleksi herbarium terus meningkat dengan pesat. Kolektor seperti S.H.Koorders, C.A.Backer, T.Valeton, H.A.B.Bunnemeijer, dan W.M.Docters van Leeuwen-yang semuanya secara sangat berarti dibantu oleh manti-mantri pribumi seperti Aet, Ajoeb, Amdjah, Arsin, Atasrip, Atje, Iboet, Jaheri, Noerkas, dan Rakhmat, yang jasa-jasa besarnya diakui pemerintah Belanda dengan penganugerahan medali perak dan emas-menambahkan sejumlah besar kegiatan pengumpulan dan juga hasil penelitiannya terhadap flora Indonesia. Sebuah rumah yang terletak di kapling Grote Postweg nomor 24 kemudian ditambahkan sebagai pavilion khusus untuk menampung koleksi tumbuhan rendah berupa lumut, ganggang, lumut kerak, dan jamur. Bangunan itu sebenarnya merupakan salah satu dari sederetan rumah tinggal yang dulu dibangun di sepanjang jalan raya, berukuran besar, berkamar enam, dibangun di atas panggung seperti rumah tradisional Pasundan, berlantai kayu dan beratap seng.

Kegunaan tumbuhan liar dan tanaman budidaya nusantara yang dikenal penduduk setempat, serta juga tanaman ekonomi yang didatangkan dari luar negeri, terus diminati orang sehingga pertanyaan untuk mendapatkan informasi selalu berdatangan. Untuk melayaninya pada tahun 1905 di Herbarium diadakan Museum en Voorlichtingdienst voor Economische Botanie, yang menyimpan koleksi artefakta etnobotani yang memperlihatkan produk dan cara pemanfaatan tumbuhan berikut sumber bahan bakunya. Museum yang berisi materi pameran untuk khalayak ramai tersebut menempati dua gedung bertingkat yang baru dibangun di Grote Postweg 18-yang kemudian dibongkar untuk mendirikan Gedung Kusnoto yang menjadi kantor pusat Lembaga Biologi Nasional (sekarang Pusat Penelitian Biologi LIPI) pada tahun 1987-dapat dianggap sebagai pendahulu. Museum etnobotani Indonesia yang pendiriannya diresmikan pada tahun 1982. Berkat kegiatan lembaga yang pada tahun 1906-1927 dipimpin oleh K.Heyne, terbitlah buku adikarya De Nuttige Plant van Nederlandsche Indie yang kemudian menjadi dasar penulisan berbagai buku pegangan pemanfaatan tumbuhan Indonesia.

Kita patut bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa selama Perang Dunia II, pimpinan Gunseibu-organisasi pemerintahan militer Angkatan Darat Jepang yang memerintah Indonesia bagian barat-merasa perlu menempatkan ilmuwan baik di Kebun Raya Bogor maupun di Herbarium Bogoriense. Oleh karena itu koleksi tumbuhan (termasuk juga koleksi besar buku-bukunya) yang sangat berharga tidak begitu menderita karena diterlantarkan sampai mengalami kerusakan oleh kecamuk peperangan. Demikian pula sebagian pakar herbarium Belanda yang diinternir dibolehkan terus bekerja sekalipun dalam suasana sangat darurat. Keadaan Herbarium Bogoriense memang berbeda dengan nasib yang diderita beberapa lembaga serupa di tempat lain seperti Herbarium Manila di Filipina dan Herbarium Berlin di Jerman yang hancur dimakan api sebagai akibat perang. Di awal masa perang kemerdekaan terjadi kekacauan sebentar, tetapi karena daerah Bogor segera diduduki tentara Inggris yang kemudian digantikan oleh tentara Belanda maka keamanan koleksi herbarium cepat tertangani. Segera sesudah terjadinya pengakuan kedaulatan, ketiadaan tenaga Indonesia yang berkualifikasi menyebabkan dipertahankannya pakar Belanda yang bersedia untuk terus bekerja menjalankan pengelolaan Herbarium Bogoriense. Memburuknya hubungan politik antara Indonesia dan Belanda pada pertengahan tahun 1950-an menyebabkan dipulangkannya ahli-ahli Belanda yang dipekerjakan tadi, untuk kemudian segera digantikan oleh tenaga Indonesia sekalipun secara teknis ilmiah mereka tidak berkualifikasi untuk menjalankan sebuah lembaga penelitian seperti Herbarium Bogoriense.

Sub tema 3: Berkembangnya Museum etnobotani Indonesia menjadi Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain)

Sejalan dengan dinamika politik waktu itu, dan bersamaan dengan adanya tekad Majelis Permusyawarahan Rakyat Sementara yang pada tahun 1960 menginginkan adanya lembaga-lembaga nasional untuk menangani pemanfaatan dan penguasaan beberapa ilmu dasar yang diangap strategis (seperti ekonomi, kebudayaan, fisika, kimia, dan biologi), usulan untuk mendirikan gedung baru buat menampung koleksi besar herbarium disetujui oleh pemerintah. Sebagai akibatnya pada 1962 gedung kantor batu yang tua usia di Jalan Raya Ir. Juanda 22 dan 24 dibongkar untuk memberi tempat bagi pendirian sebuah bangunan yang baru. Untuk sementara seluruh kegiatan pengelolaaan herbarium lalu dipusatkan di gedung museum botani ekonomi yang berlokasi di Jalan Raya Ir. Juanda 18 (sehingga dalam majalah Berita MIPI terbitan ‘Peringatan 150 Tahun Kebun Raya Bogor’ tahun 1967, maka foto gedung itu yang dipakai untuk menunjukkan kantor Herbarium Bogoriense). Begitu pula, sambil menunggu selesainya pembangunan gedung baru maka seluruh isi koleksi herbarium dipindahkan ke bangsal-bangsal darurat yang dibangun di halaman belakang gedung tersebut. Karena ketiadaan tempat, isi perpustakaan Herbarium Bogoriense terpaksa dititipkan secara terpencar-pencar di beberapa lembaga di dalam kawasan Kebun Raya Bogor.

Adapun keseluruhan perancangan gedung herbarium yang baru tadi diserahkan pada F.Silaban, seorang arsitek Indonesia kenamaan yang juga dipercaya untuk merancang Mesjid Istiqlal di Jakarta. Sebagai salah satu projek mercu suar yang menjadi mode pembangunan saat itu, gedung herbarium baru yang direncanakan tersebut terhitung sangat megah, bertingkat empat belas, dengan segala sesuatunya serbah ‘wah’ untuk ukuran zamannya. Bagi jajaran ilmuwan Indonesia merupakan suatu kehormatan besar bahwa Presiden Republik Indonesia merasa perlu untuk turun tangan sendiri buat meletakkan batu pertama saat dilakukan upacara mewah pemancangan tiang gedung yang dilakukan pada tanggal 19 Agustus 1963.

Akan tetapi ternyata kemudian bahwa pembangunan gedung herbarium baru tersebut tidaklah lancar, dan tersendat-sendat pada lantai dua terutama karena bersaing dalam pengadaan bahan bangunan (terutama besi, baja, dan semen) dengan beberapa projek mercu suar lainnya (antara lain dengan Gedung Nasional yang juga terletak di Jalan Raya Ir. Juanda Bogor 14, yang sekarang ditempati oleh beberapa buah bank swasta sekalipun hanya dua lantai yang sempat diselesaikan). Terjadinya musibah kemelut politik pada tahun 1965-yang berbuntut pada penggantian pimpinan nasional-menyebabkan projek besar yang dari segi ilmiah sangat penting tadi terbengkalai dan terhenti sama sekali. Keadaannya amat memerihatinkan karena selama pembangunan gedung, koleksi besar herbarium yang tak ternilai harganya itu terpaksa disimpan dalam bangsal-bangsal sementara yang sangat tidak memadai keadaaanya. Kesementaraannya tersaksikan dari kenyataan bahwa bangunan darurat tersebut berdinding setengah terbuka, lantainya hanya dirabat tipis-tipis sehingga lembab, dan atap sengnya bocor-bocor di beberapa tempat. Keluar masuknya serangga dengan bebas dan kelembapan tinggi menyebabkan keamanan koleksi tidak terjamin sama sekali, sedangkan kemungkinan dapat diselesaikannya pembangunan gedung megah tersebut menjadi sangat tidak berkepastian.

Keadaan suram yang dihadapi selama tahun-tahun 1966, 1967, dan 1968 menghantui pikiran para staf muda Herbarium yang baru pulang dari bertugas ke luar negeri, sehingga dicarilah terobosan-terobosan inkonvensional. Kepada Organisasi Menteri-Menteri Pendidikan Asia Tenggara (SEAMEO) yang didukung oleh Amerika Serikat diusulkan berdirinya sebuah lembaga penelitian biologi tropik di Bogor dengan menjadikan penelitian taksonomi sebagai salah satu ujung tombaknya. Tujuan terselubung usulan tersebut sebenarnya adalah agar koleksi herbarium terselamatkan dengan jalan menyelesaikan pembangunan gedungnya. Usulan itu memang berhasil melahirkan BIOTROP sebagai sebuah lembaga biologi tropika bersama untuk Asia Tenggara, akan tetapi usaha mendapatkan dana buat penyelesaian gedung herbarium gagal karena pihak Amerika Serikat memilih untuk mendirikan sebuah kampus sendiri di luar kota Bogor.

Kemudian didekati dan dilobi pejabat dan orang-orang penting yang dekat dengan pimpinan nasional buat mendapat perhatian, dengan harapan akan terjadi sekadar kucuran dana guna meneruskan pembangunan herbarium. Setelah pendekatan ini terkesan mulai mendapat angin, di antara staf herbarium lalu disepakati suatu keputusan drastis untuk menghilangkan kesan kemegahan gedung yang sedang diperjuangkannya tersebut. Sasaran utama penyelesaian pembangunan ialah mendapatkan ruangan yang cukup untuk menampung semua spesimen herbarium, koleksi perpustakaan, dan laboratorium tempat bekerja yang layak, jadi tidak meneruskan rencana semula untuk mendirikan gedung anggun bertingkat 14. Untuk itu mezanin yang terdapat di lantai dua disarankan untuk ditiadakan sehingga dipastikan menambah ruangan setengah lantai seluas 35 x 24 meter persegi. Agar terjadi lagi peningkatan luas lantai secara meyakinkan, letak dinding terluar akan lebih dipinggirkan sejauh 1.5 meter sehingga akan diperoleh penambahan seluas 2 x 70 x 1.5 meter persegi untuk setiap lantainya. Karena pembangunannya diduga akan memakan biaya banyak, lempengan-lempengan penghalang matahari pagi diusulkan dibuang, apalagi karena peniadaannya bakal membuat ruangan lebih terang secara alami sehingga juga menghemat listrik. Menduga bahwa dana yang mungkin disediakan pemerintah tidak besar, maka lantai dua akan segera diberi atap seng, sehingga secara keseluruhan bakal tersedia tiga lantai ruangan yang dianggap cukup buat menampung semua koleksi yang ada sekalipun harus berdesak-desakan menyimpannya.

Berkat kegigihan dan tidak jemu-jemunya mendekati (antara lain dengan jalan mendatangi rumahnya pagi-pagi buta untuk menghadap) orang-orang yang berpengaruh dalam membuat keputusan-antara lain beberapa jenderal yang menjadi Asisten Pribadi Presiden, Gubernur Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur, Direktur Caltex Pacific Indonesia, Direktur Jenderal Anggaran Departemen Keuangan, Direktur Utama Pertamina, dan Sekretaris LIPI-berhasillah diidentifikasi adanya anggaran yang dapat disediakan pemerintah untuk meneruskan pembangunan gedung tersebut sampai dapat ditempati. Syukur Alhamdulillah pimpinan nasional ternyata sepenuhnya dapat menyetujui sejumlah anggaran yang diperuntukan buat pembangunan tersebut. Bermodalkan dana terbatas yang betul-betul dikucurkan tadi dapatlah pembangunan segera dimulai untuk mengambil manfaat dari kerangka gedung yang terselesaikan setakat itu. Dana yang tersedia ternyata hanya cukup untuk menyelesaikan lantai dasar, lantai satu, dan memberi atap pada lantai dua seperti dikehendaki. Kegiatan pembangunan itu semuanya berhasil dirampungkan pada akhir 1969, yang segera diikuti dengan pemindahan semua koleksi herbarium dan perpustakaan dari penyimpanan sementaranya yang bersifat darurat. Tanpa suatu upacara resmi, dan tanpa penandatanganan prasasti, pada tanggal 1 April 1970 gedung baru herbarium tersebut mulai dipakai secara penuh. Ternyata kemudian bahwa dalam rangkaian kegiatan Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) dimungkinkan untuk menambah dua lantai lagi, yang dikerjakan dua kali secara bertahap. Akan tetapi pada pekerjaan lanjutan tersebut-terutama pada tahap terakhir-terjadi banyak kendala sehingga tidak dimungkinkan melanjutkan pembangunan lebih tinggi dari 7 tingkat dari rencana semula yang sampai 14 tingkat.

Perlu ditambahkan bahwa ketika masih dalam tahap awal perencanaannya, kepada arsitek F.Silaban diajukan permintaan khusus oleh Ketua Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) agar lantai dasar gedung baru herbarium tadi dibuat tinggi plafonnya. Permintaan itu didasari oleh keinginan untuk memungkinkan pemanfaatannya guna menampung koleksi yang difungsikan sebagai museum etnobotani. Koleksi artefakta etnobotani memang sudah mulai dirintis pengumpulannya sejak awal tahun 1969, dan pertemuan-pertemuan penjajakan dengan jajaran Museum Nasional di Jakarta telah dilakukan untuk keperluan koordinasi perencanaan. Penambahan dua lantai di akhir tahun 1970-an itu menyebabkan lantai dasar yang semula menampung ribuan botol koleksi herbarium basah dapat dikosongkan sama sekali, sehingga memungkinkan untuk ditempati pameran museum etnobotani seperti digagaskan semula. Selain Ketua LIPI, ternyata bahwa Menteri Negara Riset dan Teknologi juga ikut menekankan perlunya segera mewujudkan rencana pembuatan museum etnobotani tersebut. Dengan berbagai kiat dan kerja keras maka pada tanggal 18 Mei 1982 dapatlah pembukaan Museum Etnobotani Indonesia (MEI) itu diresmikan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi.

Museum Etno Botani, merupakan cikal bakal dari Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain), seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan kebutuhan-kebutuhan mendesak untuk segera mendokumentasikan lingkungan yang sedang mengalami penekanan yang disebabkan berbagai hal, antara lain alih fungsi hutan untuk berbagai peruntukan, bencana alam dan lainnya. Selain itu juuga berdasarkan latar belakang Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati diseluruh Indonesia, tetapi belum terdokumentasikan dalam bentuk illustrasi/ media yang mudah dicernah dan didiseminasikan kepada bangsa Indonesia, sehingga semakin meningkatkan kecintaan terhadap negara.

Dalam upaya kegiatan pembangunan semesta berencana pada tahun 1962 Presiden Sukarno menyediakan pula tanah seluas 198 hektare di Cibinong untuk dikembangkan sebagai pusat kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu-ilmu kehidupan. Untuk itu pada tahun 1982 LIPI mulai mencadangkan penyusunan rencana induk pembangunan kompleks gedung-gedung laboratorium seperti digagaskan pimpinan negara tersebut. Ketika pada tahun 1993 dilakukan penyusunan action plan Indonesia untuk menangani keanekaragaman hayati sebagai bagian kegiatan global, oleh dua pakar (Kathy MacKinnon dan Mien Rifai) yang ditunjuk World Wildlife Fund (WWF) untuk menyiapkan dokumennya telah diajukan rekomendasi untuk segera mengamankan khazanah koleksi zoologi dan botani nusantara sebagai modal dasar dalam kegiatan penelitian, pemanfaatan, dan pelestarian keanekaragaman hayati yang maha penting tadi. Usulan yang ditampung dalam dokumen BAPPENAS tersebut ternyata mendapat perhatian khusus dari Presiden USA dan Perdana Menteri Jepang, sehingga Indonesia kebagian dana Global Environmental Facility (GEF) sebesar US $ 7,4 juta untuk keperluan tersebut. Secara garis besar, Pemerintah Jepang menyediakan dana untuk fasilitas fisik, sedangkan Pemerintah Amerika Serikat membiayai peranti-peranti lunak kegiatannya.

Sebagai akibatnya tersedialah dana besar untuk keperluan pengamanan koleksi tersebut, yang penanganannya melibatkan pakar-pakar Internasional. Buat menjamin kelestarian koleksi zoologi dibangun sebuah gedung baru yang memang sudah sangat mendesak keperluannya. Sesuai dengan rencana induk LIPI, bangunan untuk Museum Zoologicum Bogoriense baru tersebut ditempatkan di Cibinong. Dengan sendirinya semua fasilitas penyimpanan koleksi spesimen dalam gedung baru itu disesuaikan dengan tuntutan perkembangan teknologi pengawetan spesimen zoologi yang modern.

Dalam menangani perawatan koleksi herbarium, oleh para pakar internasional yang ditunjuk sebagai konsultan dianggap perlu juga untuk menggunakan pendekatan mutakhir. Salah satu perubahan mendasar yang dilaksanakan adalah menghentikan sama sekali pemakaian HgCl2 sebagai bahan antiserangga yang selama ini selalu diterapkan di Herbarium Bogoriense karena diketahui sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.Untuk itu instalasi pembekuan spesimen dan fasilitas buat mengefisienkan fumigasi dipasang. Selain itu dipandang perlu pula untuk melakukan penyimpanan spesimen herbarium (terutama unicum yang bernilai sejarah) dalam ruangan yang berpengaturan udara. Selanjutnya disetujui untuk menggunakan dana GEF untuk merekrut beberapa staf baru herbarium dan menugasbelajarkan mereka ke luar negeri untuk mengambil spesialisasi keilmuan sambil mendalami metodologi pengelolaan koleksi herbarium yang modern.

Kemudian segera terungkap bahwa gedung herbarium yang sudah dipakai selama lebih dari 35 tahun itu tidak dirancang untuk mengahadapi perubahan drastis pemerosesan pengawetan spesimen dengan pendekatan mutakhir yang dilaksanakan tersebut. Sebagai akibatnya dalam jangka panjang keamanan koleksi lalu menjadi masalah baru karena penyimpanannya menghadapi ancaman infestasi serangga dan kelembapan udara yang pendekatan pengendaliannya tidak diantisipasi sebelumnya. Sebagai konsekuensi logis perubahan mendasar teknik pengawetan yang mulai diterapkan tersebut maka pembangunan sebuah gedung yang lebih sesuai lalu menjadi suatu keniscayaan. Sebagai hasil berbagai kegiatan lobi dan pendekatan yang intensif, sumber dana baru lalu dihibahkan oleh Pemerintah Jepang untuk membangun gedung yang memenuhi persyaratan, yang sesuai dengan rencana induk LIPI juga ditempatkan di Cibinong yang dikenal dengan kawasan Cibinong Science Center yang menempati tanah yang merupakan hibah dari pemerintah pada masa Presiden Soekarno tahun 1967. Pelaksanaan pemindahan membutuhkan waktu lebih dari 2 tahun yang diprakarsai oleh Prof. Dr. Eko Baroto Walujo, yang pada saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang Botani-Puslit Biologi. Gedung herbarium modern itu diresmikan penggunaannya dalam suatu upacara yang dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 23 Mei 2007.  Gedung Herbarium Bogoriense mempunyai luas ...... hektar yang terdiri dari gedung yang merupakan gabungan beberapa laboratorium berlantai 2, serta gedung yang hanya merisi koleksi Herbarium yang terdiri dari 4 lantai.

 

 

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

  • Latest
  • Popular

Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia

Jl. Ir.H. Djuanda No. 22 Bogor 16122-Jawa Barat Indonesia

Telp. 0251-8387703

© 2018 by Munasain

Booking online

Jadwal kunjungan

 

 

Hari

Jam

Senin-Kamis

08.00-16.00

Jumat 

08.00-11.00

 

Istirahat

 

13.00-16.00

Sabtu & Minggu

09.00-14.00

Hari libur besar/Nasional

Tutup

 

Rombongan:

untuk rombongan yang akan berkunjung ke Munasain dapat melakukan pemesanan tempat melalui Booking online, no telepon atau melalui email.

+62 0251-8387703

email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Media Sosial

  This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

Live chat

Untuk membantu kami melayani Anda dengan lebih baik, berikan beberapa informasi sebelum memulai obrolan Anda.